Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, menegaskan inovasi bukan sekadar program kerja. Inovasi adalah sikap mental yang mendorong seseorang merespons perubahan zaman.
“Inovasi bukan milik orang yang nyaman, tapi milik mereka yang gelisah. Berhenti gelisah berarti berhenti mencari, dan berhenti bertumbuh,” tegas Firmansyah di hadapan civitas akademika, di Hotel Pasific, Jodoh, waktu lalu
Firmansyah menyebut kampus sebagai rumah inovasi yang menghasilkan solusi nyata. Ia menegaskan, kampus bukan sekadar tempat belajar teori, tapi laboratorium peradaban.
“Kampus menjadi tempat masalah diuji, diperdebatkan, lalu lahir sebagai solusi berdampak nyata,” ujarnya.
Dengan peran ini, kampus memupuk kegelisahan intelektual, mendorong generasi muda berpikir kritis dan berinovasi.
Menurut Firmansyah, Indonesia kini menghadapi fase krusial: bonus demografi, ketimpangan kualitas sumber daya manusia, serta tantangan global seperti kecerdasan artifisial, perubahan iklim, dan ekonomi hijau.
“Bonus demografi bisa menjadi berkah atau beban. Semua tergantung kualitas generasi muda hari ini,” katanya.
Menuju Indonesia Emas 2045, ia menekankan, generasi unggul tidak lahir dari zona nyaman, tapi dari keberanian berpikir berbeda dan bekerja lebih keras.
Firmansyah menyoroti posisi strategis Batam sebagai pusat industri dan perdagangan internasional serta pintu gerbang Indonesia ke pasar global. Ia menegaskan, kota ini membutuhkan inovator, bukan sekadar tenaga kerja.
“Batam tidak hanya butuh lulusan. Batam membutuhkan pencipta solusi,” ujarnya.
Untuk itu, Pemkot Batam melalui RPJMD 2025–2030 mendorong: Program link and match antara pendidikan dan industri, Ekosistem inovasi berbasis kolaborasi kampus, pemerintah, dan industri, dan Transformasi ekonomi berbasis pengetahuan dan digitalisasi layanan publik.
“RPJMD bukan sekadar dokumen. Ini komitmen moral agar anak muda Batam menjadi aktor utama Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Editor: Yuli






