PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengamankan pasokan gas 111 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dari Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja (WK) Duyung selama 10 tahun. Kepastian ini muncul setelah proyek tersebut mencapai Final Investment Decision (FID).
Operator West Natuna Exploration Limited (WNEL) mengelola Lapangan Mako di lepas pantai Natuna, Kepulauan Riau, pada kedalaman sekitar 80 meter. Pemerintah menargetkan lapangan ini mulai berproduksi pada 2027.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan FID menjadi langkah penting untuk meningkatkan produksi gas nasional.
“FID menandai kesiapan proyek memasuki tahap konstruksi dan eksekusi penuh guna meningkatkan lifting gas nasional,” ujar Djoko.
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto menyambut FID Lapangan Mako. Ia menilai keputusan ini memastikan pasokan gas sesuai Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) antara PLN EPI dan WNEL yang ditandatangani pada 11 Juli 2025.
Ia menjelaskan kebutuhan listrik di Batam dan Sumatra Bagian Tengah terus meningkat.
“Kebutuhan listrik di wilayah ini tumbuh sekitar 12–15 persen per tahun dan sebagian besar dipasok pembangkit berbahan bakar gas,” kata Rakhmad.
Di sisi lain, pasokan gas dari daratan Sumatra terus menurun. Karena itu, pasokan gas dari Natuna menjadi penting untuk menjaga ketahanan energi.
Untuk mendukung penyaluran gas tersebut, PLN EPI membangun pipa WNTS–Pemping. Pipa ini akan mengalirkan gas dari Natuna ke Batam.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati mengatakan pembangunan pipa terus berjalan setelah groundbreaking pada 10 Februari 2026.
“Pipa WNTS–Pemping kami targetkan mulai beroperasi pada Juli 2026 untuk menyalurkan gas ke sistem kelistrikan Batam,” ujar Erma.
Ia menambahkan pembangunan infrastruktur gas ini sekaligus mendukung upaya transisi menuju sistem energi yang lebih bersih.
Editor: Bibah






