Program 3 Juta Rumah terus berjalan di Kepulauan Riau. Tahun ini, sebanyak 3.804 rumah masyarakat masuk program bedah rumah melalui Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).
Capaian itu menjadi salah satu pembahasan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Program Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) melalui APBN dan non-APBN. Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengikuti rakor tersebut dari Gedung Daerah, Tanjungpinang, Rabu (30/9/2026).
Rakor dipimpin Menteri PKP Maruarar Sirait melalui Zoom Meeting dan diikuti sejumlah gubernur, termasuk dari Sulawesi Barat, Sumatera Selatan, dan Bali.
Pelaksanaan 3.804 unit bedah rumah tidak hanya memenuhi kebutuhan hunian. Program ini juga menggerakkan ekonomi lokal.
Sebanyak 7.608 tukang dan 154 tenaga pendamping terlibat dalam pengerjaan rumah. Aktivitas pembangunan turut meningkatkan permintaan material, seperti semen, cat, keramik, dan berbagai bahan konstruksi.
“Dengan demikian, program perumahan turut membuka ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan manfaat ekonomi di tingkat lokal,” kata Maruarar.
Namun, kondisi geografis Kepri sebagai provinsi kepulauan membuat pelaksanaan program menghadapi tantangan. Pemerintah harus memobilisasi tenaga kerja dan material ke sejumlah pulau kecil yang belum memiliki akses transportasi reguler.
Karena itu, pemerintah memperkuat koordinasi hingga tingkat kecamatan dan desa. Kendala tenaga pendamping yang sempat muncul pada tahap awal kini juga telah teratasi.
Pemerintah mengejar penyelesaian fisik seluruh pekerjaan paling lambat 31 Desember 2026. Target itu menjadi penting karena sejumlah wilayah Kepri mulai memasuki musim hujan pada November.
Program perumahan juga berlanjut pada penyediaan sanitasi dan penataan kawasan permukiman.
Di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Belakang Padang, Batam, program sanitasi kini memasuki proses tender. Pemerintah menargetkan kontrak diteken pada 6 Oktober 2026 dan pekerjaan selesai pada akhir Desember.
Pemerintah juga menata kawasan kumuh di lokasi yang sama dengan luas sekitar 31,92 hektare. Program tersebut memiliki pagu Rp9,31 miliar. Hingga kini, realisasi keuangan mencapai 18,46 persen, sedangkan progres fisik mencapai 2,8 persen.
Di sisi lain, kebutuhan hunian di Kepri masih tinggi. Sekitar 157.570 keluarga tercatat belum memiliki rumah.
Karena itu, pemerintah terus mendorong keberlanjutan program rumah subsidi. Pada 2026, Kepri mendapat kuota 3.458 unit rumah subsidi.
Hingga akhir September, sebanyak 3.240 unit atau 93 persen telah terealisasi. Capaian tersebut terutama berasal dari Batam, Bintan, Karimun, dan Tanjungpinang.
Realisasi tinggi itu membuka peluang bagi Kepri memperoleh tambahan kuota sekitar 3.000 hingga 5.000 unit, menyesuaikan kebutuhan daerah.
Masyarakat berpenghasilan rendah juga mendapat sejumlah kemudahan melalui skema rumah subsidi. Fasilitas tersebut antara lain uang muka 1 persen, bunga flat 5 persen hingga lunas, pembebasan BPHTB dan PBG, serta perlindungan asuransi jiwa dan kebakaran.
Pemerintah tidak hanya mendorong pembangunan rumah, tetapi juga memperkuat usaha yang menopang sektor perumahan melalui KUR Perumahan.
Program tersebut menyasar UMKM sektor konstruksi dan perumahan, mulai dari kontraktor, pengembang hingga toko bangunan. Pembiayaan dapat mencapai Rp20 miliar dengan dukungan subsidi bunga.
Sementara itu, pelaku usaha yang mengajukan pinjaman di bawah Rp100 juta dapat mengakses pembiayaan tanpa jaminan.
Secara nasional, pemerintah menaikkan kuota KUR Perumahan dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun. Kepri diharapkan mampu menyerap sedikitnya Rp1 triliun untuk memperkuat perputaran ekonomi sektor perumahan.
Dengan demikian, program perumahan di Kepri tidak hanya mengejar penambahan jumlah rumah. Pemerintah juga mengarahkan program untuk meningkatkan kualitas hunian, menata lingkungan permukiman, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah selanjutnya didorong aktif mengawal sekaligus menyosialisasikan rumah subsidi dan KUR Perumahan agar manfaat program menjangkau lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha di Kepri.
Editor: Bibah







