Deputi Bidang Pembangunan Kewilayahan Kementerian Bappenas RI, Medrilzam, menilai rencana pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Menurutnya, potensi tersebut akan semakin kuat setelah pembangunan museum dan monumen rampung. Keberadaan kedua ikon itu diyakini mampu menarik wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Pulau Penyengat ini sangat besar potensinya untuk wisata sejarah dan kebudayaan,” kata Medrilzam di Pulau Penyengat, Jumat (10/4).
Ia menegaskan akan terus mendorong realisasi pembangunan Museum dan Monumen Bahasa di kawasan tersebut. Apalagi Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah penting yang berkaitan dengan lahirnya bahasa Indonesia.
“Kami berharap keunggulan ini dapat menarik wisatawan luar negeri, terlebih jika ada event berskala internasional,” ujarnya.
Medrilzam juga mengaku terkesan dengan keindahan Pulau Penyengat. Ia menyampaikan hal itu setelah mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah, seperti Masjid Penyengat, Balai Adat, serta lokasi rencana pembangunan monumen dan museum.
“Kalau ke Kepri sangat disayangkan tidak sampai ke Penyengat. Menurut saya, ini bisa menjadi magnet tersendiri,” tuturnya.
Sementara itu, Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad menyampaikan bahwa peletakan batu pertama Museum dan Monumen Tugu Bahasa direncanakan berlangsung pada Juni mendatang.
Saat ini, pemerintah masih menunggu proses lelang manajemen konstruksi sebelum proyek dimulai.
“Kita lagi menunggu lelang manajemen konstruksi. Perkiraan kita bulan Juni sudah mulai berjalan,” ungkap Ansar.
Ia berharap pembangunan museum dan monumen tersebut dapat menjadi daya tarik wisata baru di Kepulauan Riau, khususnya Tanjungpinang.
Menurutnya, peningkatan kunjungan wisatawan nantinya juga akan mendorong pertumbuhan dan perputaran ekonomi masyarakat, terutama di Pulau Penyengat.
“Dengan tingginya wisatawan yang datang, tentu akan berdampak pada pertumbuhan dan perputaran perekonomian di Tanjungpinang, khususnya di Pulau Penyengat,” tutupnya.
Editor: Difky






