Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah dalam beberapa hari terakhir masih sejalan dengan tren penurunan bursa saham regional. Otoritas pasar modal menilai tekanan tersebut dipicu meningkatnya tensi geopolitik Timur Tengah dan kebijakan moneter global yang masih ketat.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi mengatakan pelemahan IHSG masih tergolong moderat dan mencerminkan penyesuaian pasar berbasis fundamental.
“Pelemahan IHSG saat ini masih moderat dan merupakan bagian dari penyesuaian pasar yang berbasis fundamental,” kata Friderica di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Friderica menjelaskan, pasar saham domestik mengalami tekanan setelah pengumuman rebalancing indeks MSCI pada 12 Mei 2026 waktu Amerika Serikat atau 13 Mei 2026 waktu Indonesia. IHSG turun sekitar 1,98 persen pada hari pertama setelah pengumuman dan kembali melemah 1,85 persen usai libur panjang 18 Mei 2026.
Meski begitu, OJK menilai kondisi tersebut menjadi bagian dari transformasi pasar modal Indonesia. Pergerakan indeks saat ini dinilai semakin mencerminkan fundamental emiten dibanding sentimen jangka pendek.
Menurut Friderica, pergerakan IHSG juga makin selaras dengan indeks global MSCI serta indeks domestik seperti LQ45, IDX30, dan IDX80. Kondisi itu menunjukkan proses price discovery yang lebih sehat dan transparan.
Di tengah tekanan pasar, industri reksa dana justru mencatat kinerja positif. Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana naik Rp49,71 triliun atau sekitar 6,39 persen secara year to date. Total Asset Under Management (AUM) industri reksa dana kini mencapai Rp718,44 triliun.
Selain itu, jumlah investor ritel pasar modal juga bertambah sekitar 7 juta investor sepanjang tahun berjalan.
Friderica menegaskan reformasi pasar modal tidak hanya bertujuan memperbesar pasar keuangan nasional, tetapi juga memperkuat fundamental, integritas, dan keterbukaan pasar.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, I Gede Nyoman Yetna mengatakan fundamental perusahaan tercatat dan jumlah investor pasar modal terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Saat ini, jumlah perusahaan tercatat di BEI mencapai 957 emiten. Hampir 85 persen perusahaan telah menyampaikan laporan keuangan sesuai ketentuan.
“Kinerja emiten juga meningkat. Pertumbuhan laba bersih tercatat naik 21,5 persen,” ujar Nyoman.
Jumlah investor pasar modal Indonesia kini mencapai sekitar 27 juta investor atau bertambah sekitar 6,5 juta hingga 7 juta investor dibanding periode sebelumnya.
Nyoman menambahkan, pasar juga masih memiliki pipeline sekitar 15 perusahaan yang akan mencatatkan saham di bursa. Sebagian besar berasal dari perusahaan berkapitalisasi besar.
Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Sufmi Dasco Ahmad mengatakan BEI dan OJK terus memperkuat regulasi untuk meningkatkan kepercayaan investor global dan investor ritel domestik.
Menurut Dasco, penguatan regulasi penting untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan memberikan kepastian bagi investor.
“Dengan fundamental yang ada, kita yakin dan percaya bahwa bursa kita ke depan akan semakin kuat,” kata Dasco.
Ia juga mengapresiasi langkah cepat BEI dan OJK dalam menjaga stabilitas pasar di tengah tekanan global dan dinamika ekonomi domestik.
CEO Danantara, Rosan Roeslani menilai pasar modal Indonesia masih menunjukkan perkembangan positif. Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah investor ritel dan kuatnya fundamental emiten, terutama sektor perbankan dan BUMN.
Menurut Rosan, investasi pasar modal perlu dipandang sebagai instrumen jangka panjang, bukan berdasarkan pergerakan harian.
Ia menyebut sejumlah saham BUMN dan perbankan saat ini memiliki valuasi menarik. Bahkan, beberapa saham bank besar diperdagangkan pada level price to book value (PBV) di bawah satu kali.
“Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya potensi upside yang cukup besar,” ujar Rosan.
Rosan juga menilai pertumbuhan investor ritel menjadi indikator meningkatnya optimisme masyarakat terhadap pasar modal Indonesia. Jumlah investor kini mencapai sekitar 26,5 juta hingga 27 juta investor, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya yang berada di kisaran 20 juta investor.
“Pasar modal pasti mengalami ups and downs, tetapi fundamental perusahaan dan prospek pertumbuhan investor tetap kuat,” pungkas Rosan. Sumber Infopublik
Editor: Bibah






