Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menggelar Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Batam dan Tanjungpinang pada 19–21 September 2026. Sekitar 300 jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia akan mengikuti festival bertema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara” tersebut.
Untuk pertama kalinya, AJI menggelar festival media tingkat nasional di dua kota sekaligus. AJI Kota Batam dan AJI Kota Tanjungpinang menjadi tuan rumah kegiatan yang mempertemukan pengurus AJI Indonesia, AJI kota, serta sejumlah organisasi nonpemerintah (NGO).
Panitia memusatkan kegiatan pada 19–20 September di Politeknik Negeri Batam. Pada hari ketiga, 21 September, peserta bertolak ke Tanjungpinang untuk mengikuti napak tilas sejarah di Pulau Penyengat.
Rangkaian Fesmed kemudian ditutup melalui Sarasehan di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri.
Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, mengatakan Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah. Pulau di seberang Kota Tanjungpinang itu pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Melayu Riau-Lingga.
Pulau seluas sekitar 94 hektare tersebut menyimpan berbagai benda cagar budaya peninggalan Kesultanan Melayu Riau-Lingga. Pada masanya, wilayah kekuasaan kesultanan itu membentang hingga Riau, Lingga, Johor, Pahang, dan Singapura.
“Karena kekayaan sejarah itu, Penyengat kerap disebut sebagai pulau museum cagar budaya,” kata Sutana.
Menurutnya, Penyengat juga melahirkan berbagai pemikiran besar yang membentuk kebudayaan Melayu dan turut memengaruhi perkembangan bahasa Indonesia.
“Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu sekaligus turut membentuk perkembangan bahasa Indonesia,” ujarnya.
Penyengat tidak hanya menyimpan bangunan bersejarah, tetapi juga warisan intelektual yang kuat.
Pada 1895, masyarakat Penyengat mendirikan Rusydiah Klub. Perkumpulan intelektual tersebut menjadi salah satu tonggak tradisi berpikir kritis, menulis, dan menyebarkan ilmu pengetahuan di kawasan Melayu.
Sutana menilai kehadiran ratusan jurnalis di pulau bersejarah itu menjadi kesempatan untuk menelusuri kembali akar tradisi intelektual yang ikut membentuk perkembangan pers di Kepulauan Riau.
“Pelaksanaan Fesmed di Penyengat kami menyebutnya sebagai pertemuan antara sejarah dan masa depan pers Indonesia,” tuturnya.
Pulau Penyengat juga lekat dengan sosok Raja Ali Haji, pahlawan nasional yang lahir dan dimakamkan di pulau tersebut.
Raja Ali Haji meninggalkan sejumlah karya penting, antara lain Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa, serta Tuhfat al-Nafis. Karya-karya itu memberi pengaruh besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar bahasa Indonesia.
“Karena jasa besar itu, Raja Ali Haji juga dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia,” kata Sutana.
Panitia tidak ingin peserta hanya mengunjungi situs sejarah. Selama berada di Penyengat, peserta akan menyusuri sejumlah lokasi bersejarah sekaligus menulis cerita perjalanan mereka.
Sutana mengatakan kegiatan itu diharapkan melahirkan karya jurnalistik dengan berbagai perspektif tentang sejarah dan kekayaan budaya Pulau Penyengat.
“Dengan demikian, kegiatan napak tilas diharapkan dapat melahirkan berbagai perspektif dan karya jurnalistik yang memperkenalkan sejarah serta kekayaan budaya Pulau Penyengat kepada masyarakat lebih luas,” ujarnya.
AJI membawa sejarah intelektual Melayu ke dalam agenda Fesmed Selat Malaka 2026. Melalui kegiatan di Penyengat, AJI ingin menghubungkan warisan pemikiran masa lalu dengan tantangan pers Indonesia saat ini dan masa depan.
Sejarah Penyengat diharapkan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Jejak intelektual dan kebudayaan di pulau tersebut menjadi ruang refleksi bagi jurnalis untuk melihat kembali peran pers dalam menghadapi tantangan zaman.
- Masjid Raya Sultan Riau — ikon Pulau Penyengat dengan arsitektur khas dan penggunaan bahan bangunan yang secara turun-temurun dikaitkan dengan putih telur.
- Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah — tempat peristirahatan terakhir pahlawan nasional dan pejuang Melayu.
- Kompleks Makam Raja Ali Haji dan Engku Puteri Raja Hamidah — makam Raja Ali Haji, pencipta Gurindam Dua Belas, serta permaisuri kerajaan.
- Kompleks Makam Raja Abdurrahman (Yang Dipertuan Muda VII) — makam salah satu penguasa Riau-Lingga pada abad ke-19.
- Kompleks Istana Kantor — bekas kantor sekaligus kediaman resmi para raja atau Yang Dipertuan Muda.
- Perigi Sulu dan Perigi Tua — sumur bersejarah yang menjadi sumber air penting bagi masyarakat pada masa lalu.
- Istana Tengku Bilik — bangunan bersejarah yang menjadi kediaman keluarga kerajaan.
Editor: Yuli







