Meutya Hafid Dorong Anak Muda Jadi Pencipta Teknologi AI

Minggu, 1 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Menkomdigi Meutya Hafid saat menyampaikan keynote speech dalam acara Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026). (Foto: DRA/Humas Kemkomdigi)

Menkomdigi Meutya Hafid saat menyampaikan keynote speech dalam acara Indonesia Youth Summit (IYS) 2026 di Gedung Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026). (Foto: DRA/Humas Kemkomdigi)

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mendorong generasi muda Indonesia tidak sekadar menggunakan kecerdasan artifisial (AI), tetapi juga menciptakan teknologi dan inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Ia menilai, Indonesia harus beralih dari bangsa pengguna menjadi bangsa pencipta teknologi. Untuk mewujudkannya, generasi muda perlu menguasai kemampuan berpikir kritis, berani berinovasi, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

“Dalam 20 tahun menuju Indonesia Emas 2045, kita juga perlu bertanya, apakah Indonesia akan menjadi bangsa pengguna teknologi yang diciptakan oleh bangsa lain, atau kita ingin bergerak menjadi bangsa yang ikut menciptakan teknologi, pengetahuan, dan juga solusi bagi dunia,” ujar Meutya dalam Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).

Meutya menyebut Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi digital. Saat ini, sekitar 260 juta pengguna internet menopang aktivitas digital nasional. Kontribusi Indonesia juga mencapai 30 persen dari total ekonomi digital ASEAN.

Namun, tingginya penggunaan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas, inovasi, dan perlindungan masyarakat.

Ia menegaskan pemerintah menjalankan tiga agenda transformasi digital, yakni terhubung, bertumbuh, dan terjaga. Pemerintah tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi digital, tetapi juga harus melindungi masyarakat, terutama anak-anak, dari pornografi, judi daring, dan ancaman lainnya.

“Kalau pertumbuhan ekonominya tercapai 360 juta dolar di 2030, tapi anak-anaknya tidak terjaga, anak-anaknya terpapar pornografi, anak-anaknya terpapar judi online, bangsa malah terpecah belah, itu juga tidak layak,” tegasnya.

Menurut Meutya, pertumbuhan ekonomi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan.

Perkembangan AI juga mengubah peta kebutuhan tenaga kerja. Meutya memaparkan proyeksi bahwa 92 juta pekerjaan berpotensi tergantikan pada 2030. Namun, perkembangan teknologi juga diperkirakan menciptakan 170 juta pekerjaan baru.

Baca Juga :  Prabowo Beberkan Capaian Besar Pemerintah: Swasembada Pangan hingga Setop Impor Solar

Perubahan ini menuntut generasi muda menguasai keterampilan baru, terutama teknologi digital dan kemampuan bekerja bersama AI.

Ia mengungkapkan, 62 persen perusahaan mencari tenaga kerja yang mampu menggunakan AI. Sementara itu, 77 persen perusahaan meningkatkan keterampilan pekerjanya melalui program pelatihan dan pengembangan.

“Pekerjaan yang sifatnya rutin, repetitif, terstruktur, relatif mudah distandardisasi, memang akan menjadi kelompok yang paling rentan untuk terotomatisasi,” jelasnya.

Sebaliknya, kebutuhan tenaga kerja di bidang big data, fintech, AI, machine learning, dan pengembangan perangkat lunak diperkirakan terus meningkat.

Untuk menyiapkan talenta digital, pemerintah memperkuat pendidikan sains dan teknologi, riset, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, perusahaan rintisan, dan investor.

Melalui Garuda Spark Innovation Hub, pemerintah telah mengembangkan 10 Innovation Hub, menjangkau 15.700 talenta, membina 80 startup, dan mencatat investasi langsung Rp429,5 miliar.

Meutya menegaskan pengembangan ekosistem AI membutuhkan dukungan infrastruktur digital, komputasi, data berkualitas, riset, inovasi, serta akses pembiayaan dan pasar.

Pemerintah juga mengajukan Peraturan Presiden tentang Etika AI dan Peta Jalan AI untuk mengatur pengembangan teknologi tersebut agar berjalan aman dan bertanggung jawab.

“Bukan untuk menghambat inovasi, tapi untuk membuat sebuah inovasi itu aman dan secure, karena pemerintah juga tugasnya adalah melakukan perlindungan bagi rakyatnya dalam hal apa pun,” tegasnya.

Meutya meminta generasi muda mengembangkan AI untuk menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat. Ia mencontohkan pemanfaatan AI dan Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan lumbung padi di Sragen.

Baca Juga :  Pemko Batam Gandeng PT UJKM Bangun dan Operasikan Pasar Induk Jodoh

Teknologi serupa juga membantu petambak ikan nila di Sukabumi menghemat listrik serta mendukung pelaku UMKM membaca data pelanggan.

Selain itu, pengembangan AI membutuhkan data yang beragam agar teknologi tidak menghasilkan bias dan mampu mewakili kebutuhan masyarakat di seluruh Indonesia.

“AI baru menjadi bisa dipertanggungjawabkan ketika dia mengoleksi data yang beragam. Selama belum, maka dia menjadi teknologi yang sangat bias,” ujarnya.

Ia mengingatkan generasi muda agar tidak hanya memanfaatkan kemudahan AI, tetapi juga menghasilkan karya dan solusi yang meningkatkan produktivitas masyarakat.

Meutya menekankan tiga kemampuan utama yang harus dimiliki generasi muda, yakni berpikir kritis dan berani bertanya, berani menciptakan inovasi, serta bertanggung jawab.

Menurutnya, kemudahan teknologi jangan membuat anak muda terus bergantung pada produk digital buatan pihak lain. Sebaliknya, mereka harus berani menciptakan teknologi yang memberi dampak nyata.

Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028, ia mengajak generasi muda menyatukan pengetahuan, inovasi, dan teknologi untuk mendorong kemajuan Indonesia.

Ia juga mengingatkan bahwa manusia harus tetap memegang kendali atas AI, terutama dalam menentukan keputusan. Teknologi dapat membantu pekerjaan manusia, tetapi tidak bisa menggantikan empati dan kecintaan terhadap tanah air.

“Meskipun teknologi sudah bisa seperti itu, keputusan akhir harus ada di manusia. Kita harus jadi pemimpin dari AI itu sendiri. Ada beberapa hal yang tidak bisa digantikan, ada empati, dan juga terakhir yang paling utama, cinta tanah air, karena AI tidak punya tanah air,” pungkas Meutya. Sumber Infopublik

Editor: Bibah

Berita Terkait

AI di Sektor Keuangan dan Kesehatan Berisiko Tinggi, Pemerintah Siapkan Aturan Mitigasi
Kemkomdigi Minta Pengguna Laporkan Dugaan Shadowban ke Platform
OJK Luncurkan Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan PPDP 2026–2030
Meutya Hafid Ajak ASN Jaga Persatuan, Bukan Sekadar Seremoni
Prasetyo Hadi Ajak Pemuda Lanjutkan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Karya
Meutya Hafid Raih Penilaian 4,9 Persen dalam Survei Kinerja Menteri Polhukam
Kemkomdigi: Jawaban Meta AI Bukan Pernyataan Resmi
Pemerintah Perkuat Pesantren, Bentuk Ditjen Khusus di Kemenag

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 05:37

Meutya Hafid Dorong Anak Muda Jadi Pencipta Teknologi AI

Jumat, 30 Oktober 2026 - 09:53

Kemkomdigi Minta Pengguna Laporkan Dugaan Shadowban ke Platform

Kamis, 29 Oktober 2026 - 22:15

OJK Luncurkan Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan PPDP 2026–2030

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:35

Meutya Hafid Ajak ASN Jaga Persatuan, Bukan Sekadar Seremoni

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:28

Prasetyo Hadi Ajak Pemuda Lanjutkan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Karya

Berita Terbaru