Abu Gunung Anak Krakatau Menyebar, BMKG Pantau Dampak ke Penerbangan

Minggu, 6 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 Ilustrasi Gunung Krakatau meletus di 1883. (AI generated)

Ilustrasi Gunung Krakatau meletus di 1883. (AI generated)

BMKG memantau pergerakan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui citra satelit Himawari-9. Hingga Minggu (6/9/2026) pukul 13.00 WIB, BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

Berdasarkan informasi InfoBMKG, klaster pertama mencapai ketinggian 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut–selatan dengan kecepatan sekitar 10 knot atau 18 kilometer per jam. Abu berpotensi menyebar ke sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

Klaster kedua mencapai ketinggian 50.000 kaki. Abu bergerak ke arah barat daya–barat laut dengan kecepatan sekitar 20 knot atau 37 kilometer per jam. Sebarannya meliputi sebagian wilayah Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Selat Sunda, serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu–Lampung–Banten.

Hingga 6 September 2026, BMKG telah menerbitkan sekitar 50 Significant Meteorological Information (SIGMET) terkait sebaran abu Gunung Anak Krakatau.

SIGMET menjadi peringatan penting bagi penerbangan karena memuat informasi mengenai kondisi atmosfer atau fenomena cuaca yang dapat membahayakan keselamatan pesawat.

Baca Juga :  127 Personel Polresta Barelang Resmi Naik Pangkat, Kapolresta Ingatkan Amanah dan Tanggung Jawab

Dalam situasi erupsi, informasi ini membantu otoritas penerbangan memantau keberadaan dan pergerakan abu vulkanik di ruang udara.

Sebaran abu juga mendorong sejumlah bandara melakukan penyesuaian operasional. Berdasarkan pembaruan BMKG pada 6 September 2026 pukul 13.30 WIB, tujuh bandara tercatat mengalami penutupan sementara:

  • Soekarno-Hatta (CGK): 02.08–17.30 WIB
  • Halim Perdanakusuma (HLP): 07.20–14.00 WIB
  • Radin Inten II Lampung (TKG): 04.18–14.00 WIB
  • Husein Sastranegara (BDO): 12.07–16.00 WIB
  • Budiarto Curug (RTO): 06.48–13.30 WIB
  • Pondok Cabe (PCB): 10.05–14.00 WIB
  • Taufik Kiemas (TFY): 11.30–15.00 WIB

Abu vulkanik mengandung partikel batuan dan kaca vulkanik berukuran sangat halus serta bersifat abrasif. Material ini dapat menimbulkan risiko serius bagi pesawat yang melintasinya.

Abu yang masuk ke mesin pesawat dapat meleleh akibat suhu tinggi dan menempel pada komponen mesin. Kondisi itu bisa mengganggu kinerja mesin hingga menyebabkan kehilangan tenaga.

Partikel abu juga dapat mengurangi jarak pandang pilot. Gesekan material dengan kaca kokpit bisa menggores dan membuat permukaannya buram.

Baca Juga :  Setelah 10 Tahun Penantian, Pipa Gas WNTS ke Pemping Akhirnya Dibangun

Tak hanya itu, abu dapat mengganggu sensor pesawat. Material vulkanik berpotensi menyumbat lubang sensor yang mengukur kecepatan dan ketinggian sehingga memengaruhi akurasi informasi penerbangan.

Karena itu, keberadaan abu di ruang udara dapat menjadi dasar otoritas penerbangan untuk mengalihkan rute, membatalkan penerbangan, hingga menutup sementara bandara.

BMKG menjelaskan, abu vulkanik terbentuk saat gunung api mengalami letusan eksplosif. Material ini terdiri atas pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang umumnya berukuran kurang dari 2 milimeter.

Ukurannya yang sangat halus membuat abu mudah terbawa angin hingga ratusan kilometer dari sumber erupsi. Selain mengganggu aktivitas masyarakat dan kesehatan, material tersebut juga mengancam keselamatan penerbangan.

BMKG juga mendeteksi petir vulkanik dan gangguan geomagnetik. Namun, intensitas kedua fenomena itu lebih rendah dibandingkan saat letusan awal.

BMKG mengimbau masyarakat, terutama pengguna jasa penerbangan di wilayah terdampak, mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan sebaran abu dan perubahan operasional bandara. Sumber infopublik

Editor: Yuli

Berita Terkait

Rona Rasa Nusantara Jadi Sajian Reguler Setiap Sabtu di Aston Nagoya
Amsakar Dorong GMPP Jadi Jembatan Masyarakat Pesisir dan Pemerintah
Warga Batam Disebut Berada di Penampungan Kamboja, Pemko Turun Tangan
XLSMART Perkuat Konektivitas Global Indonesia Lewat CANDLE Cable System
Pemko Batam-APINDO Perkuat Serapan Tenaga Kerja Lokal, 30 Perusahaan Siap Alokasikan 20 Persen
Amsakar Puji Kesiapsiagaan TNI AU Jaga Udara Batam
Amsakar: Inovasi Pemerintahan Harus Berdampak Nyata ke Masyarakat
Pemko Batam Beri Masukan untuk Penguatan Tata Kelola BUMD

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 21:54

Rona Rasa Nusantara Jadi Sajian Reguler Setiap Sabtu di Aston Nagoya

Sabtu, 12 September 2026 - 21:43

Amsakar Dorong GMPP Jadi Jembatan Masyarakat Pesisir dan Pemerintah

Sabtu, 12 September 2026 - 21:32

Warga Batam Disebut Berada di Penampungan Kamboja, Pemko Turun Tangan

Jumat, 11 September 2026 - 21:18

XLSMART Perkuat Konektivitas Global Indonesia Lewat CANDLE Cable System

Jumat, 11 September 2026 - 20:54

Pemko Batam-APINDO Perkuat Serapan Tenaga Kerja Lokal, 30 Perusahaan Siap Alokasikan 20 Persen

Berita Terbaru

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus saat menjadi keynote speaker sekaligus memberikan pengarahan dalam kegiatan Sinergi Arah Kebijakan Kementerian Kesehatan dengan Pembangunan Kesehatan dan Upaya Percepatan Pelaksanaan Program Prioritas, Cek Kesehatan Gratis di Provinsi Kepulauan Riau, di Balairung Wan Seri Beni, Kantor Gubernur Kepri, Dompak, Jumat (11/9/2026). (Enji/DISKOMINFO KEPRI)

Daerah

Kemenkes Dorong Kepri Percepat Temuan Kasus TBC

Sabtu, 12 Sep 2026 - 22:06