Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mendukung optimalisasi penyaluran BBM subsidi dan kompensasi bagi nelayan di Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebut sektor perikanan menjadi mata pencaharian utama masyarakat Nias Utara, dengan produksi sekitar 16.000 ton dan jumlah nelayan mencapai 3.300 orang pada 2025.
Saat ini, Nias Utara memiliki empat penyalur BBM subsidi, terdiri dari satu SPBU dan tiga SPBU Kompak. Untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, Pemerintah Kabupaten Nias Utara mengusulkan penambahan SPBU Nelayan.
BPH Migas bersama Pertamina Patra Niaga dan Kementerian Kelautan dan Perikanan meninjau langsung sejumlah lokasi usulan di Kecamatan Tuhemberua dan Afulu.
“Evaluasi kami memastikan lokasi tersebut layak menjadi klaster penyalur BBM bagi nelayan,” ujar Wahyudi, Kamis (15/01/2026).
Hasil evaluasi menunjukkan lokasi di Afulu dan Tuhemberua telah masuk rencana pembangunan penyalur BBM Satu Harga yang ditargetkan beroperasi pada 2026.
Penyalur BBM tersebut tidak hanya melayani nelayan, tetapi juga sektor pertanian, transportasi darat, UMKM, dan transportasi air bermotor tempel, sehingga lebih layak secara ekonomi.
Wahyudi menjelaskan jarak antarpenyalur BBM di Nias Utara masih jauh. Jarak terpanjang mencapai 52,5 kilometer, yakni dari Kecamatan Lahewa ke Alasa.
Karena itu, BPH Migas mendorong percepatan perizinan agar penyalur BBM Satu Harga di wilayah 3T dapat beroperasi sebelum Desember 2026.

Wahyudi juga mengingatkan nelayan untuk mengurus Surat Rekomendasi BBM subsidi melalui aplikasi XStar BPH Migas agar memperoleh jaminan harga sesuai ketentuan pemerintah.
Anggota Komite BPH Migas Bambang Hermanto menilai pembangunan penyalur BBM Satu Harga penting untuk menekan harga BBM di Kepulauan Nias.
Sementara itu, Wakil Bupati Nias Utara Yusman Zega menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mempercepat perizinan pembangunan SPBU. Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Sunardi menyatakan tiga dari empat lokasi usulan telah masuk perencanaan program BBM Satu Harga.
Dalam rangkaian kunjungan ke Nias Utara, BPH Migas juga menyambangi Fuel Terminal Gunungsitoli untuk mengetahui ketahanan pasokan BBM untuk Kepulauan Nias. Berdasarkan paparan, diketahui pasokan BBM dalam kondisi aman. Hingga tanggal 15 Januari 2026, stok Pertalite mencapai 14,4 hari dan Biosolar 8 hari. Stok ini akan semakin bertambah dengan masuknya kapal pengangkut BBM yang direncanakan tanggal 19 Januari 2026 mendatang.
“Stok ini artinya sangat aman untuk masyarakat di wilayah Nias Utara maupun Kepulauan Nias. Distribusi BBM ini sudah secara day to day sudah terukur, terencana dan semua kebutuhan masyarakat perharinya bisa diantisipasi dan tidak ada terjadi keterlambatan suplai maupun pengiriman kepada SPBU yang ada di sekitar Kepulauan Nias maupun Nias Utara,” tambah Wahyudi.
Konsumsi BBM di Kepulauan Nias dan Kabupaten Nias Utara rata-rata didominasi untuk kebutuhan nelayan yang menggunakan BBM Pertalite. Kepulauan Nias merupakan wilayah dengan karakteristik kepulauan yang khas, tidak terintegrasi dengan kabupaten maupun provinsi lain. Hal ini menjadikan layanan BBM di SPBU-SPBU hanya khusus untuk masyarakat Kepulauan Nias.
Sementara, saat terjadi bencana alam di wilayah Sumatera Utara, distribusi BBM maupun LPG ke Nias tidak mengalami kendala operasional. Bahkan ketika terjadi bencana, FT Gunungsitoli menjadi salah satu tulang punggung yang membantu wilayah-wilayah di Sumatera yang terkena bencana.
Turut hadir FT Manager Gunungsitoli Budi Sulistyanto, Sales Area Manager Sibolga Denny Nugrahanto, Sales Branch Manager Nias Farisan K. Pratama, perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta instansi terkait lainnya.
Editor: Bibah






