Di atas matras, Prada Samuel Linggom Panjaitan menemukan arti kemenangan yang berbeda. Bukan hanya soal medali emas, tetapi tentang keberanian bertanding, bertahan hingga akhir, dan terus memperbaiki diri.
Sabtu, 1 Agustus 2026, Samuel turun dalam Spider Challenge 2026: Kejuaraan Jiujitsu Antar Dojo se-Provinsi Kepulauan Riau di Atrium Lantai Dasar Mall Botania 2, Batam. Prajurit YONIF TP 849/Beladau Sakti itu berhasil meraih medali perunggu atau Juara III.
Bagi Samuel, medali tersebut bukan garis akhir. Justru, ia melihatnya sebagai awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Pria kelahiran Muara Fajar, 9 September 2004, itu merupakan satu dari 20 prajurit YONIF TP 849/BS yang terpilih mendalami seni bela diri jiujitsu. Selama dua bulan, mereka menjalani latihan bersama Indonesia Spider Jujitsu (ISJ) di Dojo Kenacha Martial Arts Academy, Mall Botania 2, Batam.
Di tempat itu, disiplin militer bertemu dengan kerasnya latihan di atas matras. Samuel dan rekan-rekannya mengasah teknik kuncian, bantingan, pergerakan, kelincahan, hingga daya tahan tubuh. Latihan berlangsung berulang-ulang sampai setiap gerakan menjadi lebih terukur.
Bagi Samuel, disiplin bukan hal baru. Kehidupan sebagai prajurit telah membentuk kebiasaan untuk tetap menjalankan tugas meski tubuh lelah.
“Disiplin adalah nafasku,” ujar Samuel.
Prinsip itu pula yang ia bawa saat berlatih. Ia tetap datang ketika tubuh membutuhkan istirahat, mengulang teknik ketika gerakan belum sempurna, dan bertahan ketika tenaga mulai terkuras.
Di luar latihan jiujitsu, Samuel juga menyukai olahraga lari. Kebiasaan itu membuatnya terbiasa menjalani proses panjang. Ia memahami bahwa hasil tidak datang dalam satu langkah, melainkan melalui latihan yang dilakukan terus-menerus.
Karena itu, Samuel tidak ingin berhenti pada medali perunggu.
“Saya akan berlatih keras untuk meraih prestasi yang lebih tinggi,” katanya.
Spider Challenge 2026 menjadi ujian pertamanya setelah menjalani dua bulan latihan. Ia merasakan langsung tekanan pertandingan, menghadapi lawan, mengatur tenaga, sekaligus menjaga konsentrasi hingga pertandingan berakhir.
“Ini permulaan dari perjalanan yang lebih panjang,” ujarnya.
Kini, medali perunggu itu menjadi bagian dari pengalaman Samuel. Bukan sekadar penghargaan, tetapi pengingat bahwa prestasi lahir dari keberanian untuk turun ke matras dan kemauan untuk kembali berlatih setelah pertandingan selesai.
Perjalanan Samuel belum berakhir. Medali berikutnya masih menunggu, dan ia memilih menjemputnya dengan satu cara: kembali berlatih.
Editor: Bibah







