Pemerintah Kota Batam memperkuat pengendalian inflasi dengan menjaga pasokan dan distribusi kebutuhan pokok. Upaya itu mulai menunjukkan hasil. Monitoring pada pekan keempat Agustus 2026 mencatat harga sejumlah kebutuhan pokok relatif stabil, bahkan beberapa komoditas mengalami penurunan.
Berdasarkan Laporan Hasil Monitoring Pengendalian Inflasi Daerah Kota Batam Minggu IV Agustus 2026 dari Inspektorat Daerah Kota Batam, inflasi tahunan Batam pada Juli 2026 mencapai 4,33 persen secara year-on-year (yoy). Angka itu masih di atas batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 persen.
Meski begitu, Batam mencatat deflasi 0,26 persen secara bulanan pada Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan adanya penurunan harga dibandingkan bulan sebelumnya.
Sejumlah kelompok pengeluaran masih menjadi penyumbang inflasi tahunan. Transportasi tercatat 6,99 persen, makanan, minuman dan tembakau 5,92 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 5,77 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 9,17 persen.
Pemko Batam memantau pergerakan harga pada 24–28 Agustus 2026. Hasilnya, tidak ditemukan kenaikan harga barang kebutuhan pokok selama periode tersebut. Harga cabai rawit hijau dan udang justru turun.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan pemerintah akan menjaga pasokan, kelancaran distribusi, dan keterjangkauan harga secara konsisten.
“Kita terus memastikan pasokan kebutuhan pokok aman, distribusi berjalan lancar, dan berbagai intervensi pemerintah dilakukan ketika ada komoditas yang mengalami kenaikan harga. Yang paling penting adalah menjaga daya beli masyarakat dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang wajar,” ujar Amsakar.
Pemko Batam menjalankan pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama perangkat daerah. Pemerintah memeriksa pasar dan distributor, menggelar operasi pasar murah, memantau harga dan stok, berkoordinasi dengan daerah penghasil, serta memperkuat pasokan pangan.
Pemko Batam juga menggerakkan program Gerakan Menanam untuk memperkuat ketersediaan pangan. Pemerintah menyiapkan kawasan hortikultura cabai seluas 30 hektare untuk cabai merah keriting dan 20 hektare untuk cabai rawit hijau.
Selain itu, pemerintah telah mendistribusikan ribuan bibit cabai ke sejumlah wilayah di Batam.
Pada sektor distribusi, Pemko Batam memberikan dukungan transportasi melalui bantuan BBM bagi angkutan laut antarpulau. Pemerintah juga menopang operasional Bus Trans Batam dan bus sekolah gratis, termasuk untuk masyarakat di wilayah hinterland seperti Bulang, Galang, dan Belakang Padang.
Pemerintah turut menekan harga melalui pasar murah bersubsidi dan Mobil Jaga Inflasi Keliling (GASING). Pada Agustus 2026, program GASING menyasar sejumlah wilayah di Kecamatan Bengkong untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Ketersediaan pangan juga masih aman. Data per 26 Agustus 2026 mencatat stok beras mencapai 3.393.503 kilogram dan minyak goreng 204.704 kilogram. Sementara stok gula tercatat 134 kilogram.
Laporan monitoring juga tidak menemukan potensi kekurangan stok beras.
Hingga pekan keempat Agustus, Pemko Batam telah menjalankan delapan dari sembilan upaya pengendalian inflasi daerah. Satu langkah yang belum terealisasi ialah penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pengendalian inflasi.
Sejumlah program lainnya masih berjalan bertahap sesuai jadwal dan proses administrasi perangkat daerah.
Inspektorat Daerah Kota Batam meminta TPID terus memperbarui data harga dan stok, memastikan pasokan komoditas, mengidentifikasi penyebab kenaikan harga, dan menyiapkan intervensi secara cepat.
Pemerintah juga diminta memperkuat langkah antisipasi menjelang hari besar keagamaan. Langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
Dengan berbagai intervensi itu, Pemko Batam terus menjaga agar tekanan inflasi tidak semakin tinggi. Stabilnya harga kebutuhan pokok pada pekan keempat Agustus menjadi sinyal bahwa pengendalian pasokan, distribusi, dan harga terus berjalan.
Editor: Bibah







