Sebanyak 24 desa di Kabupaten Aceh Tengah masih terisolir akibat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah itu pada akhir November 2025. Pemerintah terus berupaya memulihkan akses darat ke desa-desa tersebut.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, desa-desa yang terisolir tersebar di Kecamatan Bintang, Ketol, Silih Nara, Rusip Antara, dan Linge. Juru Bicara Posko Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, menyebut total penduduk terdampak mencapai 10.914 jiwa.
Di Kecamatan Bintang, Desa Serule masih terisolir dengan 582 penduduk terdampak. Longsor menimbun badan jalan sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat belum bisa melintas.
Kecamatan Ketol memiliki desa terisolir terbanyak, termasuk Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Serempah, Bah, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah. Total penduduk terdampak di wilayah ini mencapai 4.951 jiwa. Beberapa desa kini bisa dilalui kendaraan roda dua, namun roda empat masih terhambat jembatan putus dan longsor.
Di Kecamatan Silih Nara, Desa Terang Engon dan Bius Utama Dusun Gantung Langit masih terisolir, dengan 254 penduduk terdampak akibat jembatan putus. Sementara di Rusip Antara, lima desa—Pilar Jaya, Pilar Weh Kiri, Tirmiara, Mekar Maju, dan Arul Pertik—terisolir. Akses kendaraan roda dua mulai terbuka, tetapi roda empat masih terhalang longsor dan jembatan rusak.
Kecamatan Linge melaporkan tujuh desa terisolir: Linge, Kute Reje, Delung Sekinel, Jamat, Reje Payung, Penarun, dan Umang. Total penduduk terdampak mencapai 2.362 jiwa. Longsor dan putusnya Jembatan Kala Ili menutup sebagian akses. Saat ini, kendaraan roda dua hanya bisa mencapai Desa Penarun dan Umang.
Murthalamuddin menegaskan pemerintah terus mempercepat penanganan darurat dan pemulihan akses. Pemerintah membuka jalur darat sementara dan memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat bencana agar akses masyarakat ke desa-desa terisolir segera pulih. Sumber Info Publik
Editor: Yuli






