Bank Indonesia (BI) Kepulauan Riau (Kepri) mendorong budaya Melayu menjadi sumber nilai tambah ekonomi melalui Gebyar Melayu Pesisir (GMP) 2026 di K-Square Mall, Batam, 14–20 September 2026.
Mengusung tema “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”, GMP 2026 menghubungkan budaya dengan pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, kuliner, fesyen, dan pariwisata.
Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto P mengatakan, BI mendorong Kepri menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru agar tidak bergantung pada sektor utama.
“Penguatan UMKM menjadi salah satu strategi untuk memperluas dampak pertumbuhan ekonomi kepada masyarakat,” kata Rony.
BI memperkuat produk unggulan daerah, mempromosikan kuliner dan destinasi wisata, serta membuka konektivitas pasar yang lebih luas bagi UMKM.
Penguatan tersebut berjalan melalui tiga pilar, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.
BI juga mendorong digitalisasi untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing pelaku usaha di Kepri.
Strategi tersebut BI terjemahkan melalui GMP 2026. Agenda ini menghadirkan expo, fashion show, talkshow, business matching, workshop, kompetisi, charity run, hingga festival kuliner nusantara.
Rangkaian kegiatan itu mempertemukan UMKM, pelaku ekonomi kreatif, industri, perbankan, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Pertemuan tersebut membuka peluang pasar sekaligus mengangkat budaya Melayu sebagai bagian dari pengembangan ekonomi daerah.
BI Kepri juga menghadirkan pertunjukan musik langsung yang terbuka bagi masyarakat.
Di sisi lain, BI memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, TPID, perbankan, industri, UMKM, dan masyarakat untuk menjaga stabilitas serta memperluas sumber pertumbuhan ekonomi.
Di tengah upaya memperluas sumber pertumbuhan, ekonomi Kepri tumbuh 6,99 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2026.
Angka tersebut melambat dari 7,04 persen pada triwulan sebelumnya. Meski demikian, pertumbuhan Kepri masih menjadi yang tertinggi di Sumatera.
“Capaian ini juga lebih baik dibanding pertumbuhan Sumatera sebesar 5,06 persen (yoy),” ujar Rony.
Industri pengolahan, konstruksi, pertambangan dan penggalian, serta perdagangan besar dan eceran menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Kepri.
Dari sisi pengeluaran, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 24,08 persen (yoy). Peningkatan investasi, termasuk investasi data center di Batam, turut mendorong pertumbuhan tersebut.
Editor: Bibah







