Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau, Rony Widijarto P., menegaskan ekonomi Kepri terus melaju sepanjang 2025. BI Kepri mencatat, berdasarkan rilis BPS, ekonomi Kepri pada triwulan IV 2025 tumbuh 7,89 persen (yoy), naik dari triwulan sebelumnya 7,48 persen (yoy).
“Secara kumulatif, ekonomi Kepri tahun 2025 tumbuh 6,94 persen dan menjadi yang tertinggi di Sumatera,” tegas Rony.
BI Kepri mencatat sektor industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan mendorong utama pertumbuhan. Industri pengolahan tumbuh 7,52 persen, pertambangan 16,01 persen, konstruksi 5,30 persen, dan perdagangan 7,55 persen.
Rony menyebut pelaku industri tetap menjaga ekspansi meski menghadapi dinamika tarif global. Operator migas mulai mengalirkan produksi sejak Mei 2025 dan mendorong lonjakan sektor pertambangan. Pengembang KEK dan kawasan industri mempercepat proyek dan mengangkat kinerja konstruksi. Pelaku usaha juga memanfaatkan momentum hari besar untuk mendongkrak perdagangan.
Perbankan di Kepri meningkatkan fungsi intermediasi sepanjang 2025. BI Kepri mencatat DPK tumbuh 13,22 persen (yoy) dan perbankan menyalurkan kredit tumbuh 25,92 persen (yoy) pada Desember 2025. Bank juga menaikkan pembiayaan korporasi 37 persen dan kredit UMKM 13,21 persen.
“Kami melihat perbankan aktif menyalurkan kredit dan dunia usaha merespons dengan ekspansi,” kata Rony.
Dari sisi pengeluaran, investor memperkuat penanaman modal dan mendorong PMTB tumbuh 6,81 persen. Pemerintah juga mempercepat perizinan melalui PP Nomor 25 dan 28 Tahun 2025 sehingga menarik PMA dan PMDN.
Rumah tangga meningkatkan konsumsi hingga tumbuh 3,84 persen. BI Kepri mencatat Indeks Keyakinan Konsumen bertahan optimistis di level 122,29. Pelaku ekspor juga meningkatkan pengiriman sehingga net ekspor tumbuh 20,52 persen.
BI Kepri memperluas penggunaan QRIS di berbagai sektor. Hingga Desember 2025, masyarakat melakukan 99,44 juta transaksi QRIS atau naik 192,69 persen (yoy) dengan nominal Rp11,54 triliun. BI juga mendorong transaksi QRIS lintas negara dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura.
BI Kepri bersama TPID menjaga inflasi tetap terkendali di level 3,47 persen (yoy), masih dalam sasaran nasional. Tim mengendalikan pasokan dan distribusi, serta memperkuat komunikasi harga. Kenaikan harga terutama datang dari emas perhiasan, cabai, angkutan udara, dan daging ayam.
BI Kepri memproyeksikan ekonomi Kepri tetap tumbuh pada tahun berikutnya. Pemerintah dan pelaku usaha melanjutkan pengembangan KEK, kawasan industri, dan proyek strategis nasional.
Editor: Diki






