Anggota/Deputi Bidang Investasi Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), Fary Djemy Francis, menegaskan kepastian tarif listrik, keandalan pasokan energi, dan kesiapan infrastruktur menjadi kunci pengembangan Batam sebagai pusat data center regional.
Fary menyampaikan hal itu dalam Sosialisasi Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 354.K/TL.04/MEM.L/2026 tentang Tarif Tenaga Listrik PT PLN Batam di Hotel Mercure Batam, Jumat (25/9/2026).
Menurut Fary, kebutuhan tersebut semakin mendesak seiring pertumbuhan industri data center di Batam. Berdasarkan pemetaan BP Batam, kapasitas eksisting, komitmen, dan pipeline industri data center telah mencapai 1,47 gigawatt (GW) IT.
Karena itu, BP Batam mendorong paradigma Utility First, Investment Follows. Melalui pendekatan tersebut, kesiapan utilitas harus berjalan lebih dahulu sebelum investasi baru masuk.
Dalam penerapannya, BP Batam menetapkan lima prioritas, yakni tarif listrik yang kompetitif, jaminan pasokan energi, percepatan pembangunan infrastruktur, ketahanan air, serta integrasi investasi dengan kesiapan utilitas.
“Setiap megawatt investasi baru harus datang bersama solusinya. Jangan sampai investasi datang lebih cepat daripada kesiapan listrik. Infrastruktur harus mendahului pertumbuhan, bukan tertinggal di belakangnya,” kata Fary.
Langkah itu menjadi penting karena pertumbuhan data center akan meningkatkan kebutuhan energi Batam secara signifikan. Fary bahkan memperkirakan sektor tersebut menjadi salah satu tantangan utama sistem kelistrikan Batam dalam beberapa tahun mendatang.
Lebih jauh, Fary menyebut 2029 sebagai titik penting. Pada tahun tersebut, kebutuhan listrik untuk data center diperkirakan mulai melampaui separuh beban puncak listrik Batam.
Pada saat yang sama, PLN Batam memproyeksikan beban puncak listrik meningkat hampir tiga kali lipat. Beban tersebut diperkirakan naik dari 841 megawatt (MW) pada 2026 menjadi 2.540 MW pada 2035.
Untuk menjawab kebutuhan itu, PLN Batam merencanakan peningkatan daya mampu pasok hingga 3.691 MW. Dengan demikian, pertumbuhan kapasitas pembangkit dan pasokan energi harus berjalan seiring dengan ekspansi industri.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Fary menilai Batam perlu mengubah pendekatan dalam mengembangkan investasi. Pemerintah dan pengelola kawasan tidak cukup hanya menyiapkan lahan dan menawarkan insentif, tetapi juga harus memastikan seluruh utilitas mampu menopang investasi yang masuk.
Di sisi lain, kebijakan energi juga harus tetap menjaga kebutuhan masyarakat. Fary mengatakan Batam harus memastikan listrik tetap andal dan terjangkau, menjaga keandalan layanan air, sekaligus memberikan kepastian operasional bagi investor.
Dengan pendekatan tersebut, Fary berharap pertumbuhan investasi tidak hanya meningkatkan aktivitas ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Batam sebagai pusat ekonomi digital regional secara berkelanjutan.
“Batam tidak cukup hanya menawarkan lahan dan insentif. Keunggulan baru kita adalah kepastian, kecepatan, dan kepercayaan. Energi Batam harus siap agar investasi tumbuh dan Batam menjadi pusat ekonomi digital regional,” ujar Fary.
Editor: Bibah







