Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad mendorong pembangunan Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat untuk memperkuat kembali jejak sejarah Melayu dalam perkembangan bahasa nasional.
Ansar menyampaikan hal itu dalam Dialog Kepri Menyapa yang digelar TVRI Kepulauan Riau, Rabu (23/9/2026).
Menurut Ansar, pemerintah tidak ingin pembangunan museum dan monumen itu berhenti sebagai simbol fisik. Pemerintah juga akan memperkuat konten sejarah dan budaya agar lebih dekat dengan generasi muda.
“Simbol-simbolnya sudah kita bangun. Konten-konten monumental itu yang harus kita perkaya, terutama agar generasi muda benar-benar mencintai budayanya sejalan dengan perkembangan teknologi,” ujar Ansar.
Ia menilai penguatan sejarah dan budaya penting untuk menjaga identitas Melayu di tengah perubahan zaman.
Pemerintah menjadwalkan peletakan batu pertama pembangunan museum dan monumen tersebut pada peringatan Hari Jadi ke-24 Provinsi Kepri, Kamis (24/9/2026).
Ansar menargetkan pembangunan rampung pada akhir 2027.
“Kalau kalender kerja kita, InsyaAllah akan kita selesaikan pada akhir 2027. Awal 2028 bertepatan dengan 100 tahun Sumpah Pemuda,” katanya.
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri Dato’ Seri Setia Utama Raja Al-Hafiz Raja Ismail menegaskan modernisasi tidak harus mengorbankan adat dan budaya Melayu.
Menurutnya, masyarakat Melayu terbuka terhadap pendatang dan investasi selama pembangunan memberi manfaat bagi masyarakat serta tetap menghormati nilai adat dan budaya setempat.
LAM Kepri juga mendukung pemerataan pembangunan di seluruh kabupaten dan kota. Raja Ismail menilai pelestarian bahasa Melayu harus berjalan melalui pendidikan.
“Cikal bakal bahasa nasional kita berasal daripada bahasa Melayu. Karena itu, melalui pendidikan dan muatan lokal, kita melakukan upaya-upaya untuk melestarikan bahasa Melayu,” ujarnya.
Ia mendorong pelestarian bahasa Melayu sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Menurutnya, Museum dan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah bahasa Melayu kepada masyarakat.
Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Dr. Eki Darmawan, S.Sos., M.I.P., menilai pembangunan Kepri membutuhkan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor swasta.
Eki mengatakan pemerintah perlu memperkuat keterkaitan pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja dan pengembangan sektor swasta. Langkah itu penting untuk membuka lapangan kerja sekaligus mencetak pelaku usaha baru.
Perguruan tinggi, lanjutnya, juga dapat memberi ruang bagi calon mahasiswa berprestasi, termasuk di bidang seni, budaya, dan keagamaan.
Eki turut mendorong pengembangan kewirausahaan berbasis karakter kemaritiman Kepri. Potensi hasil laut dan produk lokal, katanya, perlu diolah menjadi produk bernilai tambah agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Editor: Difky







