Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat tata kelola dan integritas industri Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) dengan meningkatkan kompetensi Tim Penilai Calon Pihak Utama.
OJK menggelar PVML Fit and Proper Test Assessor Summit 2026 di Jakarta, Senin (9/2/2026). Forum ini menjadi agenda tahunan sejak 2015 untuk memperkuat kualitas proses penilaian kemampuan dan kepatutan.
Melalui kegiatan ini, OJK meningkatkan kapasitas Tim Penilai dalam menguji integritas, reputasi, kelayakan keuangan, dan kompetensi Calon Pihak Utama PVML. OJK juga memperbarui pemahaman assessor terhadap regulasi terbaru dan pemanfaatan teknologi digital di sektor jasa keuangan.
Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman menegaskan Tim Penilai memegang peran kunci dalam menyaring pihak yang masuk ke industri PVML karena sektor ini belum memiliki skema penjaminan seperti perbankan.
“Tim Penilai sangat menentukan siapa yang masuk ke industri PVML. Pastikan yang lolos berintegritas, tidak hanya pintar, agar industri terus tumbuh,” ujar Agusman.
Ia meminta Tim Penilai menggali strategi dan komitmen calon pihak utama dalam mencegah fraud, terutama saat wawancara.
Per akhir 2025, OJK mencatat aset PVML tumbuh 7,48 persen (yoy) menjadi Rp1.115 triliun. Penyaluran pembiayaan naik 7,26 persen menjadi Rp1.003 triliun, dengan total 756 entitas. OJK menargetkan PVML makin memperkuat pembiayaan ekonomi, khususnya UMKM.
“Kami terus menyiapkan terobosan untuk masyarakat dan UMKM. OJK menjalankan roadmap, mengevaluasi berkala, dan memperbaiki jika diperlukan,” kata Agusman.
Dalam forum tersebut, Tim Penilai menandatangani Kode Etik, Pakta Integritas, dan Kontrak Kinerja sebagai komitmen menjaga integritas. Kegiatan berlangsung hybrid dengan 67 peserta hadir langsung dan 55 peserta mengikuti secara daring dari unsur internal dan eksternal OJK.
OJK juga membekali peserta dengan materi regulasi PVML terbaru dan penguatan keamanan siber, termasuk POJK Nomor 32 Tahun 2025 tentang Buy Now Pay Later (BNPL) serta penguatan tata kelola dan budaya siber.
Untuk mempercepat dan memperkuat proses penilaian, OJK memanfaatkan teknologi melalui aplikasi SPRINT, SIPUTRI untuk track record terintegrasi, SLIK untuk penelusuran pembiayaan bermasalah, dan SIGAP untuk pengecekan daftar pengawasan APU-PPT.
Editor: Rega






