Keberadaan patung Raja Ali Haji di Magtymgyly Pyragy Park, Ashgabat, Turkmenistan, menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Melayu. Pujangga besar asal Pulau Penyengat itu berdiri sejajar dengan 23 tokoh sastra, penyair, dan pemikir dunia lainnya.
Magtymgyly Pyragy Park merupakan kompleks taman budaya seluas 41 hektare yang berada di kaki Pegunungan Kopetdag, Distrik Büzmeýin, Ashgabat. Presiden Serdar Berdimuhamedov meresmikan taman ini pada 17 Mei 2024 untuk memperingati 300 tahun kelahiran penyair nasional Turkmenistan, Magtymguly Pyragy.
Turkmenistan membangun taman tersebut sebagai simbol persahabatan antarbangsa sekaligus penghormatan terhadap warisan sastra dunia.
Di taman yang berjarak sekitar 6.600 kilometer dari Kepulauan Riau itu, patung Raja Ali Haji berdiri di atas pedestal marmer putih. Patung perunggu setinggi 3,5 meter itu menampilkan sosok Raja Ali Haji sebagai sejarawan, ulama, dan ahli tata bahasa Melayu.
Patung Raja Ali Haji berdampingan dengan tokoh-tokoh dunia seperti William Shakespeare, Johann Wolfgang von Goethe, Dante Alighieri, Honoré de Balzac, Rabindranath Tagore, Yasunari Kawabata, hingga Mihai Eminescu.
Pemerintah Turkmenistan memilih Raja Ali Haji sebagai representasi dunia Melayu-Nusantara karena jasanya meletakkan dasar tata bahasa Melayu yang kemudian berkembang menjadi Bahasa Indonesia. Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, juga mendapat pengakuan luas sebagai warisan sastra penting di kawasan Asia Tenggara.
Penghormatan Turkmenistan terhadap Raja Ali Haji memunculkan pertanyaan sederhana: mengapa Pulau Penyengat, tanah kelahirannya, belum memiliki monumen yang setara untuk mengabadikan jasanya?
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau berupaya menjawab pertanyaan tersebut melalui pembangunan Monumen Tugu Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menegaskan bahwa pembangunan Tugu Bahasa bertujuan memperkuat identitas Pulau Penyengat sebagai tempat lahir akar Bahasa Indonesia.
“Pembangunan Tugu Bahasa ini untuk menegaskan bahwa Pulau Penyengat adalah tempat lahirnya akar Bahasa Indonesia. Ini menjadi kebanggaan sekaligus penguatan identitas sejarah dan budaya kita,” ujarnya.
Proyek tersebut mencakup dua fasilitas utama, yakni Monumen Tugu Bahasa dan Museum Bahasa.
Monumen Tugu Bahasa akan menjadi landmark baru Kepulauan Riau yang dibangun di Bukit Kursi, Pulau Penyengat. Lokasi ini menawarkan panorama kawasan Tanjungpinang, Dompak, Senggarang, hingga Batam. Tugu juga direncanakan dilengkapi fasilitas lift menuju puncak bangunan.
Sementara itu, Museum Bahasa akan menampilkan perjalanan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia, koleksi karya sastra Melayu klasik, serta berbagai ruang edukasi interaktif bagi pengunjung.
Pembangunan museum dan monumen tersebut tidak hanya memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai tanah kelahiran Bahasa Indonesia, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan wisata sejarah, pendidikan, dan ekonomi daerah.
Jika Turkmenistan mengabadikan Raja Ali Haji di taman budaya kelas dunia, maka sudah selayaknya Pulau Penyengat menghadirkan monumen yang mampu menghormati dan memperkenalkan warisan sang pujangga kepada generasi mendatang.
Editor: Yuli






