Gubernur Ansar Ahmad menegaskan Provinsi Kepulauan Riau memiliki posisi strategis sebagai “Beranda NKRI” yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.
Kepri juga berada di jalur perdagangan internasional Selat Malaka yang sangat vital. Setiap tahun sekitar 80 ribu kapal dan 70 juta kontainer melintasi jalur tersebut.
Ansar menilai posisi strategis ini mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di daerah tersebut.
Sepanjang 2025, Kepri mencatat kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 2.027.037 orang. Angka ini menempatkan Kepri sebagai pintu masuk wisman terbesar ketiga di Indonesia setelah Bali dan DKI Jakarta.
Menurut Ansar, pemerintah daerah harus menyiapkan strategi yang adaptif untuk menghadapi dinamika geopolitik global agar sektor pariwisata tetap kuat.
“Kepri memiliki posisi sangat strategis sebagai beranda NKRI dan pintu gerbang wisatawan mancanegara. Karena itu, kita harus memperkuat strategi pariwisata agar tetap resilien di tengah dinamika geopolitik global,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ketegangan internasional dapat memicu travel warning dan memengaruhi persepsi keamanan wisatawan terhadap suatu destinasi. Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia juga dapat meningkatkan biaya transportasi udara dan laut yang berdampak pada mobilitas wisatawan.
Untuk menjaga pertumbuhan kunjungan wisman, Pemerintah Provinsi Kepri memperkuat berbagai strategi pengembangan pariwisata.
Pemprov Kepri mendorong penggunaan autogate di keimigrasian serta optimalisasi kebijakan Visa on Arrival agar akses wisatawan ke Kepri semakin cepat dan mudah.
Selain itu, pemerintah daerah juga mengembangkan sport tourism dan marine tourism sebagai keunggulan daerah kepulauan.
Pemprov Kepri juga memperluas pasar wisata dengan memperkuat segmen wisatawan nusantara.
Ansar optimistis target 2,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri pada 2026 dapat tercapai melalui kolaborasi dan sinergi seluruh pemangku kepentingan pariwisata.






