Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat integritas pasar modal untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, tata kelola, dan kepercayaan investor.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan penguatan tersebut menjadi bagian dari reformasi pasar modal agar semakin efisien, kredibel, dan mampu mendukung pembiayaan pembangunan nasional.
“OJK berkomitmen meningkatkan likuiditas, transparansi, tata kelola dan enforcement, serta memperkuat kapasitas kelembagaan dan sistem pengawasan,” kata Friderica dalam peringatan 49 tahun diaktifkannya kembali Pasar Modal Indonesia di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Friderica menyebut reformasi pasar modal mulai menunjukkan hasil. Jumlah Single Investor Identification (SID) kini mencapai 30,27 juta, tumbuh 48,67 persen secara tahunan.
Sebanyak 78 persen investor tersebut berusia di bawah 40 tahun.
“Angka ini mencerminkan adanya trust, confidence, dan harapan masyarakat Indonesia terhadap pasar modal,” ujarnya.
Hingga 7 Agustus 2026, pasar modal telah menghimpun dana Rp123,21 triliun melalui 135 aksi korporasi. Jumlah emiten juga telah mencapai 962 perusahaan.
Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp667 triliun, sedangkan Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.026 triliun.
Pada momentum HUT ke-49 tersebut, OJK bersama pemangku kepentingan juga meluncurkan Exchange Traded Fund (ETF) Emas.
Friderica menyebut ETF Emas menjadi salah satu langkah pendalaman pasar. Instrumen ini menawarkan investasi yang praktis, likuid, sesuai prinsip syariah, sekaligus dapat berfungsi sebagai safe haven.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengapresiasi reformasi pasar modal dan berharap ETF Emas tidak hanya menambah pilihan investasi, tetapi juga meningkatkan likuiditas.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menilai penguatan pasar modal dapat memperluas basis investor, memperbanyak instrumen investasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
OJK juga terus mendorong penguatan free float, transparansi kepemilikan saham, tata kelola, keamanan siber, serta pengembangan Bursa Karbon dan produk investasi berkelanjutan. Sumber Infopublik
Editor: Bibah







