Tokoh Lintas Agama Batam Serukan Keadilan Iklim

Minggu, 20 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pernyataan sikap tokoh lintas agama dan kepercayaan di Batam mendorong aksi nyata menghadapi krisis iklim, di gedung Politeknik Batam, Sabtu (18/09/2026). Foto: Metroposid

Pernyataan sikap tokoh lintas agama dan kepercayaan di Batam mendorong aksi nyata menghadapi krisis iklim, di gedung Politeknik Batam, Sabtu (18/09/2026). Foto: Metroposid

Tokoh lintas agama dan kepercayaan di Batam mendorong aksi nyata menghadapi krisis iklim. Mereka meminta semua pihak melindungi lingkungan dan memastikan masyarakat rentan tidak menjadi korban kerusakan alam.

Seruan itu mereka sampaikan dalam Pernyataan Sikap Lintas Agama untuk Keadilan Iklim di Gedung Poltek Batam, Sabtu (19/9). Mereka mengangkat persoalan berkurangnya hutan, pencemaran laut dan sungai, serta ancaman terhadap sumber air dan kualitas udara.

Kondisi tersebut, menurut mereka, langsung mengancam kehidupan masyarakat. Petani, nelayan, masyarakat adat, buruh, warga pesisir, masyarakat miskin, dan anak-anak menghadapi risiko lebih besar ketika kerusakan lingkungan terus terjadi.

Karena itu, para tokoh agama meminta kepentingan ekonomi tidak mengorbankan keselamatan manusia. Mereka mengingatkan aktivitas yang merusak lingkungan dapat menghilangkan tanah, tempat tinggal, sumber penghidupan, dan ruang hidup masyarakat.

Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU) Kota Batam, M Zaenuddin, menempatkan persoalan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan. Ia mengatakan kerusakan alam pada akhirnya memperbesar penderitaan manusia.

“Dalam pernyataan sikap ini, kita ingin mengingatkan bahwa kerusakan alam berarti memperbesar penderitaan sesama, terutama masyarakat yang memiliki keterbatasan untuk melindungi diri dari dampak krisis iklim,” kata Zaenuddin.

Baca Juga :  Kader PKK Batam Tampilkan Kreativitas Lewat Lomba Vlog

Senada dengan itu, perwakilan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Markiano, meminta nilai agama tidak berhenti pada doa dan wacana. Ia mendorong umat menerjemahkan nilai keagamaan menjadi keberanian bertindak dan melindungi lingkungan.

“Ada empat poin utama yang menjadi penegasan dalam pernyataan sikap itu,” kata Markiano.

Pertama, iman harus mendorong keadilan. Para tokoh lintas agama mengacu pada nilai keagamaan yang mengajarkan manusia menjaga sesama dan alam. Islam mengenal konsep khalifah fil ard, sementara Kristen dan Katolik mengajarkan pengelolaan bumi dengan kasih. Hindu mengenal Tri Hita Karana, sedangkan Buddha mengajarkan Karuna dan Ahimsa. Nilai keseimbangan dalam Konghucu serta kearifan leluhur juga menguatkan pesan tersebut.

Berangkat dari nilai itu, para tokoh kemudian menempatkan bumi sebagai amanah. Mereka meminta pemerintah dan pelaku usaha mengelola sumber daya alam secara adil, transparan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Mereka juga meminta setiap kebijakan memperhitungkan kepentingan masyarakat luas dan hak generasi mendatang. Dengan begitu, pembangunan ekonomi tidak berjalan dengan mengorbankan lingkungan dan kehidupan warga.

Baca Juga :  PN Batam Vonis 5 Tahun, Fandi ABK Kapal Pembawa Sabu Hampir 2 Ton

Selanjutnya, mereka menuntut perlindungan bagi kelompok rentan. Petani, nelayan, masyarakat adat, buruh, warga pesisir, masyarakat miskin, dan anak-anak tidak boleh menanggung dampak terbesar dari kerusakan lingkungan.

Para tokoh juga mengajak seluruh elemen masyarakat mengambil langkah konkret. Rumah ibadah, lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha, komunitas adat, dan warga dapat memperkuat perlindungan hutan, laut, tanah, serta sumber air.

Tak berhenti di sana, mereka mendorong pengembangan ekonomi berkelanjutan sekaligus mengubah pola hidup agar lebih menghormati alam. Mereka juga meminta masyarakat memperkuat dukungan bagi kelompok yang sudah terdampak kerusakan lingkungan.

Pernyataan sikap tersebut ditandatangani perwakilan lintas agama dan kepercayaan. Di antaranya M Zaenuddin dari PC NU Batam, Luqman Rifai dari MUI Batam, Franciscus Septadi dari umat Katolik, I Gede Agung Ario dan Gede Somantika dari Hindu, Sudiarjo dari Buddha, Dermawan dari Maitreya, Markiano dari PGI, serta tiga perwakilan Konghucu.

Melalui pernyataan itu, mereka menyatukan pesan: “Satu Bumi, Satu Kemanusiaan, Satu Tanggung Jawab.”

Editor: Bibah

Berita Terkait

Kebutuhan Listrik Data Center Melonjak, BP Batam Dorong Utility First
Amsakar Dorong Guru Al-Qur’an Adaptif dan Kreatif Hadapi Perkembangan Zaman
BP Batam Catat 1.182 Permohonan Perizinan, 423 Sudah Terbit
Batam Jaga Waduk, Data Center Didorong Bangun Sumber Air Mandiri
Batam-Surabaya Perkuat Kerja Sama Riset dan Inovasi
TMA Waduk Nongsa Turun, BP Batam Atur Suplai Air
Bank Danus Undi 250 Hadiah, Empat Mobil Listrik Jadi Rebutan Nasabah
Komisaris Pertamina Patra Niaga Tinjau Agen LPG di Batam, Pastikan Penyaluran 3 Kg Siap Dukung KDKMP

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 14:33

Kebutuhan Listrik Data Center Melonjak, BP Batam Dorong Utility First

Sabtu, 26 September 2026 - 00:56

BP Batam Catat 1.182 Permohonan Perizinan, 423 Sudah Terbit

Jumat, 25 September 2026 - 21:11

Batam Jaga Waduk, Data Center Didorong Bangun Sumber Air Mandiri

Jumat, 25 September 2026 - 21:04

Batam-Surabaya Perkuat Kerja Sama Riset dan Inovasi

Rabu, 23 September 2026 - 13:46

TMA Waduk Nongsa Turun, BP Batam Atur Suplai Air

Berita Terbaru