Prabowo Kritik Kebocoran Ekonomi dan Lemahnya Pengawasan Ekspor

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). DPR menggelar rapat paripurna dengan agenda antara lain penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal oleh Presiden Prabowo. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/app/kye

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5/2026). DPR menggelar rapat paripurna dengan agenda antara lain penyampaian Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal oleh Presiden Prabowo. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/app/kye

Presiden Prabowo Subianto menilai sistem ekonomi nasional masih lemah dan membuat kekayaan Indonesia terus mengalir ke luar negeri.

Prabowo menyampaikan hal itu saat Rapat Paripurna DPR RI ke-19 terkait Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Dalam pidatonya, Prabowo mempertanyakan kondisi ekonomi nasional yang tetap tumbuh, tetapi belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas, semua pakar dan guru besar, bagaimana bisa pertumbuhan 35 persen tapi kelas menengah menurun dan kemiskinan meningkat,” ujar Prabowo.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan sistem ekonomi nasional berjalan di arah yang salah.

“Kalau kita teruskan sistem seperti ini, saya yakin tidak mungkin kita menjadi bangsa yang makmur,” katanya.

Baca Juga :  OJK Resmikan Program Dukungan Asuransi untuk Perkuat Ekosistem Pinjaman Daring

Prabowo menegaskan Indonesia akan sulit menjaga kedaulatan jika tidak mampu menciptakan kemakmuran bagi rakyat.

Prabowo juga menyoroti aliran keluar kekayaan nasional atau outflow of national wealth yang disebut berlangsung selama puluhan tahun.

Menurutnya, Indonesia selalu mencatat surplus perdagangan karena nilai ekspor lebih besar dibanding impor. Namun, keuntungan dari aktivitas ekonomi nasional justru banyak mengalir ke luar negeri.

Ia mengungkapkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat Indonesia meraih keuntungan sekitar USD436 miliar dalam 22 tahun terakhir. Namun, sekitar USD343 miliar justru keluar dari dalam negeri.

“Ini yang menyebabkan gaji guru kecil, gaji aparat penegak hukum kecil, dan anggaran negara selalu terasa tidak cukup,” ujarnya.

Prabowo menilai praktik under invoicing, transfer pricing, dan penyelundupan menjadi penyebab kebocoran penerimaan negara.

Baca Juga :  OJK Tegaskan Pengawasan Adaptif Hadapi Risiko Digital dan Aset Kripto

Ia menjelaskan pelaku melaporkan nilai ekspor lebih rendah dari nilai sebenarnya melalui perusahaan di luar negeri.

“Ini adalah penipuan di atas kertas. Ada lagi penyelundupan melalui pelabuhan,” katanya.

Menurut Prabowo, praktik tersebut terjadi pada berbagai komoditas strategis, termasuk batu bara dan kelapa sawit.

Karena itu, ia meminta seluruh pihak bersikap jujur dan segera membenahi lembaga pemerintah, termasuk sektor kepabeanan dan cukai.

“Kita harus berani mengatakan apa adanya. Kita harus perbaiki lembaga-lembaga pemerintah kita,” tegasnya.

Prabowo menilai pembenahan tata kelola ekonomi dan pengawasan ekspor menjadi langkah penting agar kekayaan nasional benar-benar kembali untuk kesejahteraan rakyat. Sumber Infopublik

Editor: Bibah

Berita Terkait

Meutya: Orang Tua Jadi Garda Terdepan Lindungi Anak di Ruang Digital
Fadli Zon Dorong Permainan Tradisional Kembali Jadi Bagian Hidup Anak Indonesia
Amsakar Alihkan Fokus Pembangunan Batam ke Pemberdayaan Masyarakat
Prabowo Beberkan Capaian Besar Pemerintah: Swasembada Pangan hingga Setop Impor Solar
Prabowo Percepat Target Swasembada Gula Jadi Dua Tahun
Kepri Perkuat UMKM, Nyanyang Dorong Kolaborasi dan Digitalisasi
Kemenkomdigi Kembali Raih Opini WTP, PNBP Lampaui Target Rp29,3 Triliun
Telkomsel Luncurkan Halo Optima, Kuota 300 GB dengan Netflix hingga Spotify Premium
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:52 WIB

Meutya: Orang Tua Jadi Garda Terdepan Lindungi Anak di Ruang Digital

Sabtu, 25 Juli 2026 - 22:43 WIB

Fadli Zon Dorong Permainan Tradisional Kembali Jadi Bagian Hidup Anak Indonesia

Jumat, 24 Juli 2026 - 23:33 WIB

Amsakar Alihkan Fokus Pembangunan Batam ke Pemberdayaan Masyarakat

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:26 WIB

Prabowo Beberkan Capaian Besar Pemerintah: Swasembada Pangan hingga Setop Impor Solar

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:10 WIB

Prabowo Percepat Target Swasembada Gula Jadi Dua Tahun

Berita Terbaru