77,4 Persen Masyarakat Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak

Sabtu, 6 Juni 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Siswa melakukan praktik simulasi gunung berapi saat open house untuk orang tua dan calon siswa Sekolah Rakyat di SRMP 10, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026). Kegiatan yang diikuti ratusan calon siswa di SRMP 10, Bogor tersebut untuk membangun kesamaan visi, mengenalkan sistem asrama gratis dan memberikan kepastian akses pendidikan yang setara bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nym

Siswa melakukan praktik simulasi gunung berapi saat open house untuk orang tua dan calon siswa Sekolah Rakyat di SRMP 10, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/6/2026). Kegiatan yang diikuti ratusan calon siswa di SRMP 10, Bogor tersebut untuk membangun kesamaan visi, mengenalkan sistem asrama gratis dan memberikan kepastian akses pendidikan yang setara bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/nym

Mayoritas masyarakat mendukung kebijakan pemerintah yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Hasil Survei Nasional Evaluasi Kinerja Pemerintah dan Isu Aktual Strategis yang dirilis Poltracking Indonesia pada Kamis (4/6/2026) menunjukkan 77,4 persen responden mendukung kebijakan tersebut. Sebaliknya, 13,6 persen responden menyatakan tidak setuju.

Pemerintah mulai menerapkan kebijakan itu pada 28 Maret 2026 melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).

Dukungan terhadap PP Tunas juga datang dari para finalis Puteri Indonesia 2026. Mereka menyatakan siap mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melindungi anak di ruang digital.

Puteri Indonesia Pendidikan 2026 sekaligus Miss Charm Indonesia 2026, Gisela Belicia Alma Thesalonica, menilai PP Tunas menjadi langkah penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak-anak.

Baca Juga :  Meutya Ajak Orang Tua Awasi Anak dari Paparan Judi Online

Menurut Gisela, regulasi tersebut tidak sekadar membatasi akses media sosial, tetapi melindungi anak agar menggunakan teknologi pada usia yang tepat. Ia juga menilai pemerintah menyusun aturan itu secara matang dengan melibatkan akademisi, psikolog, dan berbagai praktisi.

Gisela mengaku siap menyosialisasikan PP Tunas di lingkungan sekolah dan kalangan pelajar. Ia juga berencana membawa isu perlindungan anak di ruang digital ke ajang Miss Charm 2026 di Vietnam.

“Sebagai generasi muda Indonesia, saya bangga dengan hadirnya PP Tunas. Saya ingin menggaungkan pentingnya perlindungan anak di ruang digital melalui media sosial dan forum internasional,” ujarnya.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan PP Tunas menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat perlindungan anak saat beraktivitas di ruang digital.

Regulasi tersebut mewajibkan platform digital melindungi anak dari berbagai risiko, seperti perundungan siber, pornografi, eksploitasi data pribadi, radikalisme, hingga kecanduan media sosial.

Baca Juga :  Harkitnas Jadi Momentum Perkuat SDM dan Literasi Digital

“PP Tunas mengatur bagaimana platform digital memberikan perlindungan kepada anak-anak. Kami ingin memastikan anak siap sebelum memiliki akun dan beraktivitas secara mandiri di ruang digital,” kata Meutya.

Pemerintah menerapkan pengaturan usia secara bertahap. Platform dengan tingkat risiko tinggi hanya dapat diakses pengguna berusia minimal 16 tahun. Sementara platform berisiko lebih rendah dapat digunakan mulai usia 13 tahun dengan syarat tertentu.

Meutya menegaskan kebijakan tersebut bukan untuk membatasi hak anak mengakses teknologi, melainkan memastikan mereka siap menghadapi berbagai risiko di dunia digital.

“Seperti memberikan kunci mobil, ada waktunya ketika anak sudah siap menghadapi risiko di jalan. Prinsip yang sama berlaku dalam penggunaan media sosial,” ujarnya.Sumber  Infopublik

Editor: Bibah

Berita Terkait

Meutya Hafid Ajak ASN Jaga Persatuan, Bukan Sekadar Seremoni
Prasetyo Hadi Ajak Pemuda Lanjutkan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Karya
Meutya Hafid Raih Penilaian 4,9 Persen dalam Survei Kinerja Menteri Polhukam
Kemkomdigi: Jawaban Meta AI Bukan Pernyataan Resmi
Pemerintah Perkuat Pesantren, Bentuk Ditjen Khusus di Kemenag
Prabowo Tekankan Kekompakan Kabinet, Kerja Sama Jadi Kunci Kinerja Pemerintahan
Aset Keuangan Syariah Tembus Rp3.231 Triliun, OJK Siapkan Empat Strategi Penguatan
Indonesia-Malaysia Perketat Perlindungan Anak di Media Sosial

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:35

Meutya Hafid Ajak ASN Jaga Persatuan, Bukan Sekadar Seremoni

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:28

Prasetyo Hadi Ajak Pemuda Lanjutkan Semangat Sumpah Pemuda Lewat Karya

Minggu, 25 Oktober 2026 - 09:30

Meutya Hafid Raih Penilaian 4,9 Persen dalam Survei Kinerja Menteri Polhukam

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:14

Kemkomdigi: Jawaban Meta AI Bukan Pernyataan Resmi

Jumat, 23 Oktober 2026 - 04:23

Pemerintah Perkuat Pesantren, Bentuk Ditjen Khusus di Kemenag

Berita Terbaru