Pemerintah menyiapkan strategi komprehensif untuk menahan lonjakan harga plastik yang mulai menekan pelaku UMKM, khususnya di sektor makanan dan minuman.
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menyebut Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik hingga 55 persen.
Sekitar 70 persen distribusi bahan baku nafta tersebut melewati jalur Selat Hormuz. Konflik geopolitik di kawasan itu mendorong kenaikan harga plastik secara signifikan.
Untuk meredam dampaknya, pemerintah bersama Kementerian Perdagangan Republik Indonesia menyiapkan langkah jangka pendek dan jangka panjang.
Dalam jangka pendek, pemerintah membuka alternatif pasokan nafta dari kawasan yang lebih stabil seperti Afrika, India, dan Amerika.
“Pemerintah sedang menyiapkan proses administrasi agar distribusi bahan baku baru dapat segera berjalan,” kata Maman.
Pemerintah juga memanfaatkan situasi ini untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan industri nasional.
Salah satu langkahnya ialah mendorong penggunaan bahan baku alternatif ramah lingkungan berbasis sumber daya domestik.
Bambu, rumput laut, dan singkong memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bioplastik sebagai pengganti bahan berbasis nafta.
“Ini bukan sekadar solusi krisis pasokan, tetapi peluang membangun industri hijau berbasis potensi lokal,” ujar Maman.
Indonesia memiliki pasokan rumput laut dan singkong yang melimpah. Sejumlah pelaku UKM bahkan telah memproduksi plastik berbasis rumput laut dan berhasil menembus pasar ekspor.
Namun, keterbatasan pasar membuat biaya produksi masih relatif tinggi.
Maman menilai kebijakan yang tepat dapat meningkatkan permintaan sehingga biaya produksi menjadi lebih efisien.
“Jika pemerintah memperkuat substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, permintaan akan tumbuh dan biaya produksi bisa ditekan,” katanya.
Pemerintah kini mengkaji berbagai kebijakan pendukung, seperti subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, serta pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha.
Di saat yang sama, pemerintah mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Sumber Infopublik
Editor: Yuli






