Save the Children: Anak Indonesia Tertekan di Ruang Digital dan Terancam Krisis Iklim

Rabu, 14 Januari 2026 - 17:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Talkshow dan diskusi, pemaparan catatan akhir tahun situasi anak di agenda pemenuhan hak anak 2026 Diskusi Media di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Talkshow dan diskusi, pemaparan catatan akhir tahun situasi anak di agenda pemenuhan hak anak 2026 Diskusi Media di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Anak-anak Indonesia kini hidup di dunia digital, tapi kesehatan mental mereka semakin terancam. Di sisi lain, krisis iklim merusak hak dasar anak, mulai dari pangan, pendidikan, hingga rasa aman.

Save the Children Indonesia mengungkap temuan ini dalam diskusi media awal 2026. Studi mereka pada 2025 menunjukkan hampir 40% anak SMP menghabiskan 3–6 jam sehari di depan gawai. Anak perempuan menggunakannya lebih lama dibanding laki-laki, dan banyak tetap mengakses ponsel meski sekolah melarang.

Meski literasi digital meningkat, kesehatan mental anak justru memburuk seiring kecanduan gawai. Anak-anak memahami risiko digital—penipuan, peretasan, dan perundungan siber—tapi mereka belum punya keterampilan untuk menghadapinya.

Baca Juga :  OJK Serahkan Dua Tersangka Kasus Investree ke Kejaksaan

“Anak tahu risiko, tapi bingung bertindak. Literasi digital saja tidak cukup. Mereka butuh kompetensi digital lengkap, pendampingan orang tua, dan dukungan kesehatan mental,” tegas CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, saat Diskusi Media di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Krisis iklim juga mengancam anak. Laporan SDGs 2025 mencatat perubahan iklim mengganggu pola makan dan kesehatan anak, menurunkan pendapatan keluarga, dan meningkatkan risiko perlindungan, terutama saat bencana. Kajian Save the Children dan Humanitarian Forum Indonesia menemukan air bersih dan layanan kesehatan di pengungsian masih terbatas, sementara kebutuhan balita, ibu hamil, dan menyusui belum terpenuhi.

Baca Juga :  77,4 Persen Masyarakat Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak

Save the Children menekankan perlindungan anak harus komprehensif. Prioritas 2026 termasuk memperkuat keamanan digital, meningkatkan literasi dan aksi iklim bagi anak, serta memastikan pemenuhan hak anak pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar adalah memastikan anak-anak tumbuh aman, sehat, dan tangguh. Tanpa perlindungan hari ini, cita-cita itu sulit tercapai,” kata Dessy.

Editor: Yuli

Berita Terkait

OJK Panggil TAFS Terkait Dugaan Penagihan Kredit dengan Kekerasan
Satgas PASTI Ungkap Penghimpunan Dana Ilegal Koperasi BLN, Ketua Ditangkap
OJK Panggil Solusiku Terkait Dugaan Pelanggaran Penagihan
77,4 Persen Masyarakat Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak
Puteri Indonesia 2026 Siap Kawal Sosialisasi PP Tunas
Raja Ali Haji di Taman Magtymgyly Pyragy, di Antara Pahlawan Literatur, Penyair dan Pemikir Dunia
Langkah Awal Ekspansi Global, Pegadaian Timor Leste Catat Kinerja Gemilang
442 Jemaah Haji Kloter 1 Debarkasi Batam Tiba di Tanah Air
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:43 WIB

OJK Panggil TAFS Terkait Dugaan Penagihan Kredit dengan Kekerasan

Senin, 8 Juni 2026 - 21:45 WIB

Satgas PASTI Ungkap Penghimpunan Dana Ilegal Koperasi BLN, Ketua Ditangkap

Minggu, 7 Juni 2026 - 11:48 WIB

OJK Panggil Solusiku Terkait Dugaan Pelanggaran Penagihan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 04:41 WIB

77,4 Persen Masyarakat Dukung Pembatasan Media Sosial untuk Anak

Jumat, 5 Juni 2026 - 12:55 WIB

Puteri Indonesia 2026 Siap Kawal Sosialisasi PP Tunas

Berita Terbaru